apa yang akan menyatukan kita
Apa sebenarnya yang akan menyatukan kita ? dalam setiap perjalanan hidup kita selalu bertemu dengan seseorang yang baru, menjalin hubungan dari mulai sekedar pertemanan, persahabatan, hubungan kerja hingga cinta. Lalu kemudian di saat berikutnya tak berapa lama kita dipisahkan entah oleh waktu, ideology, dan kepercayaan kita masing – masing, tidak jarang justru kita menghadapi konfilk.
Lalu apa yang bisa menyatukan kita semua ? dalam setiap seting kehidupan kini sepertinya kita telah dipaksa untuk dapat saling bertentangan, kemudian atas nama loyalitas kita berbenturan, dipisahkan atas golongan – golongan.
Kebutuhan hidup menjadi prioritas utama, kalo bisa untung kenapa tidak walaupun yang lain rugi… kita telah kehilangan sepenggal nurani kita… terkadang dalam kesempatan apapun entah terpaksa atau mungkin kita tidak merasa, kita telah merugikan orang lain.
Mungkin hanya taqwa terhadap Tuhan YME yang akan menjadikan kita semua satu, tidak ada saling benci dan menjatuhkan.. permasalahannya adalah terkadang symbol, loyalitas, perbedaan, kelas social, bahasa semuanya di wujudkan dalam kekuasaan (penguasaan, dan dikuasai).
Republik ini dibangun dengan Pancasilanya, sebuah sarana menyatukan perbedaan. Kita sepakat bahwa hanya ada Agama Samawi yang akan berkembang Di Indonesia, karenanya Sila pertama menyebutkan Ke- TUHAN – an Yang Maha Esa. Namun yang terjadi justru kita sibuk memikirkan bagaimana menciptakan kemanusian yang adil dan beradab, dan kemudian hari ini bangsa kita telah mencapai Persatuan Indonesia, di dorong oleh semangat kepemudaan jauh sebelum kemerdekaan dengan terus dikumandangkannya SUMPAH PEMUDA. Betul bahwasanya rakyat kita telah bersatu, tapi apakah kita bersatu dibawah perasaan senasib sepenanggungan ? apakah selama 60 tahun kemerdekaan kita telah mendapatkan sesosok kepemimpinan yang Ke - TUHAN – an Yang Maha Esa (tidak sekuler, tidak nasionalis, tidak sosialis, dan tidak komunis), karena agama pastinya memberikan keselamatan dan kesejahteraan umatnya. Komunis telah runtuh (unisoviet), Sekuler telah ditinggalkan (era spiritual mulai datang), Nasionalis terbukti tidak cukup (Hitler dan Israel dan USA), dan Sosialis tidak akan bertahan (Cina adalah sosialis semu). Bangsa ni cerdas sebenarnya tetapi tidak konsisiten pada kesepakatan, pengkhianatan dimana – mana ? Karenanya kita butuh pemimpin yang benar – benar Berke- TUHAN – an Yang Maha Esa, artinya semangat untuk menciptakan masyarakat yang adil dan beradab , demi terjalinnya persatuan dan kesatuan, kemudian kehidupan dalam pengambilan kebijakan dengan seting kemusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan, dalam pemusyawaratan dan perwakilan. Semoga dalam waktu dekat kita akan segera dipimpin oleh pemimpin harapan.