Archive for January, 2006

apa yang akan menyatukan kita

Sunday, January 15th, 2006

Apa sebenarnya yang akan menyatukan kita ? dalam setiap perjalanan hidup kita selalu bertemu dengan seseorang yang baru, menjalin hubungan dari mulai sekedar pertemanan, persahabatan, hubungan kerja hingga cinta. Lalu kemudian di saat berikutnya tak berapa lama kita dipisahkan entah oleh waktu, ideology, dan kepercayaan kita masing – masing, tidak jarang justru kita menghadapi konfilk.

Lalu apa yang bisa menyatukan kita semua ? dalam setiap seting kehidupan kini sepertinya kita telah dipaksa untuk dapat saling bertentangan, kemudian atas nama loyalitas kita berbenturan, dipisahkan atas golongan – golongan.

Kebutuhan hidup menjadi prioritas utama, kalo bisa untung kenapa tidak walaupun yang lain rugi… kita telah kehilangan sepenggal nurani kita… terkadang dalam kesempatan apapun entah terpaksa atau mungkin kita tidak merasa, kita telah merugikan orang lain.

Mungkin hanya taqwa terhadap Tuhan YME yang akan menjadikan kita semua satu, tidak ada saling benci dan menjatuhkan.. permasalahannya adalah terkadang symbol, loyalitas, perbedaan, kelas social, bahasa semuanya di wujudkan dalam kekuasaan (penguasaan, dan dikuasai).

Republik ini dibangun dengan Pancasilanya, sebuah sarana menyatukan perbedaan. Kita sepakat bahwa hanya ada Agama Samawi yang akan berkembang Di Indonesia, karenanya Sila pertama menyebutkan Ke- TUHAN – an Yang Maha Esa. Namun yang terjadi justru kita sibuk memikirkan bagaimana menciptakan kemanusian yang adil dan beradab, dan kemudian hari ini bangsa kita telah mencapai Persatuan Indonesia, di dorong oleh semangat kepemudaan jauh sebelum kemerdekaan dengan terus dikumandangkannya SUMPAH PEMUDA. Betul bahwasanya rakyat kita telah bersatu, tapi apakah kita bersatu dibawah perasaan senasib sepenanggungan ? apakah selama 60 tahun kemerdekaan kita telah mendapatkan sesosok kepemimpinan yang Ke - TUHAN – an Yang Maha Esa (tidak sekuler, tidak nasionalis, tidak sosialis, dan tidak komunis), karena agama pastinya memberikan keselamatan dan kesejahteraan umatnya. Komunis telah runtuh (unisoviet), Sekuler telah ditinggalkan (era spiritual mulai datang), Nasionalis terbukti tidak cukup (Hitler dan Israel dan USA), dan Sosialis tidak akan bertahan (Cina adalah sosialis semu). Bangsa ni cerdas sebenarnya tetapi tidak konsisiten pada kesepakatan, pengkhianatan dimana – mana ? Karenanya kita butuh pemimpin yang benar – benar Berke- TUHAN – an Yang Maha Esa, artinya semangat untuk menciptakan masyarakat yang adil dan beradab , demi terjalinnya persatuan dan kesatuan, kemudian kehidupan dalam pengambilan kebijakan dengan seting kemusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan, dalam pemusyawaratan dan perwakilan. Semoga dalam waktu dekat kita akan segera dipimpin oleh pemimpin harapan.

Adalah sebuah pilihan, pahami kawan - kita sedang dipermainkan

Sunday, January 15th, 2006

Tak terasa memang, ternyata ada aktor yang mempermainkan kita (seluruh bangsa)… nineleven adalah wujud sebuah sandiwara besar yang sangat mencengangkan kita semua…(4 futher information klik www.davidduke.com) sebuah usaha besar untuk menghancurkan kaum ekonom sebanyak 5000 orang yang mendadak tidak masuk kerja dan sutradara kesengsaraan diseluruh pelosok dunia, si penumpang dan penyabot tanah dalam perjalanan bangsanya, si pemrakasa politik adu domba dimana – mana yang sekarang dikenal dengan propaganda atau konspirasi, si pecundang yang sangat dibenci oleh Hitler, dan si ulung tukang distorsi media… seluruh bangsa sedang diperdaya… ketika dengan cepat mereka bangun tembok – tembok kekuasaan dan klaim atas tempat – tempat suci pujaan …

Dengan gaya yang sama sebenarnya, tetapi dengan topeng yang berbeda… ketika sebagian masyarakat berteriak boikot produknya… sebagian lainya berteriak atas nama HAM menentang sikap itu… sulit memang karena penguasaan media ada ditangan mereka…

Hari ini kita dininak bobokan dengan “ART” (bermusik, gaya hidup, Hedonisme) sementara mereka dengan generasinya secara ketat memberikan disiplin ilmu pengetahuan untuk menguasai dunia… Kaget … atau bereaksi “ah kau hanya mengada – ngada” ? itu juga pengalaman yang pernah saya lewati…

Pernahkah kita coba telaah kenapa Green Day mempopulerkan The American Idiot ? singkat jawaban saya atas segala persepsi, adalah karena ternyata sebagian besar rakyat USA – pun menjadi korban konspirasi pemerintahannya sendiri. Bagaimana perang IRAK digelar tanpa alasan yang jelas dan kemudian dipecah belah antar bangsanya sendiri, Kemudian kebijakan mempertahankan militer untuk menetap di IRAK sementara sebagian besar warganya sedang terserang badai ? Lalu upaya penimbunan minyak dengan terus membeli minyak berapapun harganya di pasaran, dan perlu diketahui ternyata para petingginya adalah pebisnis minyak (presiden, wapres, dan menlu); Republika – 6 okt 2005. Bukan bangsa amerikanya tetapi ada bangsa yang mengatur konspirasi itu, dan kemudian tidak berbeda dengan kita yang juga sedang dipermainkan, juga oleh oknum – oknum bangsa itu atau mungkin buyut/ cicit dari keturunan mereka yang berhasil di pompa semangat kejahatannya.

Sadarkah kita pada label yang melekat pada bangsa kita, KORUPTOR, KEMISKINAN, KEBODOHAN, PENGANGGURAN, … dan sederet yang buruk lainnya…

Hati – hati dengan media, salah – salah kita jadi salah… Apakah sederet lebel itu dapat kita terima ? jawabannya tentu tidak, menurut saya… kita justru cenderung mengejar standar kejelekan itu dengan mencoba terus melakukan penelitian pada apa yang negara lain sebutkan untuk menemukan keburukan kita sendiri… Coba praktekan, cari berapa banyak mobil yang bercat PINK di seluruh Indonesia ? jawaban ternudah adalah tanyakan saja pada pabrik cat mobil, sudah berapa kaleng yang diproduksi dan terjual… kita tidak pernah mencari standar terbaik dinegeri ini, ikrar pemuda yang menjadi fenomenal di tahun 1928 hanya bercita – cita mempersatukan kita. Lalu kemudian yang harus kita pkirkan adalah setelah bersatu terus gimana ?

Uh… dsar saya penganut abstraksi pemikiran, jadinya lari sana – sini … kemudian yang harus difokuskan adalah kita harus mulai membangun kesadaran pada apa yang ada dan terjadi disekitar kita ? kita tidak akan pernah tahu, karena sesuatu itu diwaktu tertentu akan pula berhubungan dan atau berdampak pada kehidupan kita.

Bahwa kita harus Berpikir Cerdas, Berkarya dan bekerja lebih keras untuk dapat memberikan yang terbaik untuk kesejahteraan generasi diseluruh dunia. Dan akhirnya sebuah pilihan akan muncul dihadapan kita, “Menjadi Pejuang (pemain) atau korban” tentunya perjuangan adalah untuk kesejahteraan kita bersama dan jauh dari konspirasi si bangsa yang sombong

just remind u, girls… take care

Sunday, January 15th, 2006

Sungguh mencengangkan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.

Penelitian ini dipaparkan dalam jumpa pers Kamis (1/8/2002).

From Joe Norwood

Sunday, January 15th, 2006

Here’s…….. Some Cold Hard Facts on Iraq for you today.

Did You Know??

Hint……Most Folks will say….."Of course I didn’t know. How could I"?

Did you know that 47 countries have reestablished their embassies in Iraq?

Did you know that the Iraqi government currently employs 1.2 million Iraqi
people?

Did you know that 3100 schools have been renovated, 364 schools are under
rehabilitation, 263 schools are now under construction and 38 new schools
have been built in Iraq?

Did you know that Iraq’s higher educational structure consists of 20
Universities, 46 Institutes or colleges and 4 research centers, all
currently operating?

Did you know that 25 Iraq students departed for the United States in
January 2005 for the re-established Fulbright program?
Did you know that the Iraqi Navy is operational?! They have 5- 100-foot
patrol craft, 34 smaller vessels and a naval infantry regiment.

Did you know that Iraq’s Air Force consists of three operational squadrons, which includes 9 reconnaissance and 3 US C-130 transport aircraft (under Iraqi operational control) which operate day and night, and will soon add 16 UH-1 helicopters

and 4 Bell Jet Rangers?

Did you know that Iraq has a counter-terrorist unit and a Commando Battalion?

Did you know that the Iraqi Police Service has over 55,000 fully trained and equipped police officers?

Did you know that there are 5 Police Academies in Iraq that produce over 3500 new officers each 8 weeks?

Did you know there are more than 1100 building projects going on in Iraq?
They include 364 schools, 67 public clinics, 15 hospitals, 83 railroad stations, 22 oil facilities, 93 water facilities and 69 electrical facilities.

Did you know that 96% of Iraqi children under the age of 5 have received the first 2 series of polio vaccinations?

Did you know that 4.3 million Iraqi children were enrolled in primary school by mid October?

Did you know that there are 1,192,000 cell phone subscribers in Iraq and in phone use has gone up 158%?

Did you know that Iraq has an independent media that consists of 75 radio stations, 180 newspapers and 10 television stations?

Did you know that the Baghdad Stock Exchange opened in June of 2004?

Did you know that 2 candidates in the Iraqi presidential election had a televised debate recently?

OF COURSE WE DIDN’T KNOW!

US Media Wouldn’t Tell The Truth!

Instead of reflecting our love for our country and the incredible job our people are doing in Iraq, we get photos of flag burning , incidents at Abu
Ghraib and people throwing snowballs at the presidential motorcades.Instead of hearing reports on the amazing progress being made, all we hear
is suggestions that it’s time to get out.

The lack of accentuating the positive in Iraq serves two purposes. It is intended to undermine the world’s perception of the United States thus minimizing consequent support, and it is intended to discourage American citizens. It appears to be working. You’d better question the motives of the the majority of the mainstream American media —

The above facts are verifiable on Department of Defense web site.(pentagon)

salam pendidikan dari seorang teman

Sunday, January 15th, 2006

YLLA Subijantoro, mahasiswi S-2 ilmu hukum Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden Yudhoyono
konon membuat SBY marah. "Saat berdialog dengan masyarakat Indonesia di
India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai menjelek-jelekkan negeri kita dan memuji luar negeri. Saya menyesalkan," kata SBY di Tanah Air.

Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan 23 November lalu itu?
Berikut petikan perbincangan Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra:

Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri?
Saya tidak terima dibilang menjelek-jelekkan bangsa! Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya membandingkan kebijakan Pemerintah India dengan SBY. Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi gede banget untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah kalau pendidikan di Indonesia makin nggak terjangkau!

Berapa uang kuliah Anda di India?
Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ 600, sekitar Rp 6 juta. Itu sudah all-in, sudah admission fee dan tuition fee. Tinggal mikir biaya hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya foreigner yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau orang India yang kuliah, setahun bayarnya cuma 700 rupee, sekitar Rp 40.000.

Bagaimana dibandingkan dengan biaya di Indonesia?
Tahun lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk semester pertama saja
habis Rp 50 juta.

Anda kaget ketika SBY marah?
Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya. Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan, eh, saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang, ”Ah, SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya isekolahin ke luar negeri juga. Berarti dia setuju pendidikan di luar negeri bagus.”

Reaksi SBY bagaimana?
SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah sombong banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah sembilan kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di ndonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di ranking dunia, pendidikan Indonesia kan nggak masuk?

Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana?
Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk, manggut-manggut minta maaf. Terus saya perhatikan lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma beberapa detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga memperhatikan penjelasan SBY.

Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan Anda?
Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa pendidikan di Indonesia tidak jelek. Pendidikan di luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu enjawab soal buku-buku murah, SBY bilang kalau pemerintah juga sudah menyiapkan content (materi) untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake untuk sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan nggak nyambung dengan apa yang saya sampaikan.

Seperti apa subsidi pendidikan di India?
Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku impor karena pemerintah memberi subsidi kertas! Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama dengan penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar buku-buku mereka bisa dicetak di India, jadi bisa dijual lebih murah. Buku-buku kuliah saya, kalau dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp 10.000. Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 juta untuk beli buku saja. Dan karena subsidi kertas itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu langganan satu koran, satu majalah berita semacam Gatra, dan satu majalah wanita. Nah, untuk langganan tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110 rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di India, pelajar dapat fasilitas
kartu abonemen yang harganya cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang berlaku selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama empat bulan kita bisa gratis naik bis pemerintah jurusan apa aja. Mau keliling-keliling Delhi juga boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman. Berhentinya juga Cuma di halte. Kartu abonemen itu selain untuk pelajar, juga dikasih untuk pegawai negeri, tentara, orang jompo dan physically disabled (orang cacat). Itu untuk transportasi.

Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India?
Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia, saya ingin pemerintah belajar kepada India. Orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya, pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan murah. Para insinyur di India mampu bersaing untuk masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia hanya beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah pemerintah bikin agar pendidikan itu affordable.
Tapi, pendidikan di Indonesia kan ada juga bagusnya?
Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus. Di kampus sudah ada lift, whiteboard, pakai OHP. Kalau di sini enggak. Naik dari lantai I ke lantai IV masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak ada AC. Tapi, kalau kualitas content-nya, kita kurang.

Kalau pengajarnya bagaimana?
Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen, peraih nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private session , masih dilayanin. Nggak susah. Bahkan presidennya sendiri, Abdul Kalam, dia juga mengajar, dan masih bisa ditelepon! Saya pernah bareng mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya lihat Abdul Kalam itu dikritik mahasiswanya yang orang India, ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak marah kok. Masih santai aja.

Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda ditegur, misalnya oleh orang
KBRI?
Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut itu justru pegawai negeri (dari Indonesia) yang tugas belajar ke India. Mereka pada marah. Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar dari induknya, kaget.
Padahal saya kan juga bukan baru pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya kan juga sempat ikut summer course atau homestay gitu. Tapi kan nggak kompatibel kalau membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya dibandingin dengan India.

[Teropong, Gatra Nomor 6 Beredar Senin, 19 Desember 2005