real indonesia
Wajah Indonesiaku dengan Potret Kemiskinan
Di Tengah – tengah kemegahan dan Keindahan.
Entah harus mulai darimana, kesedihan melanda ketika mengingat berita dan derita busung lapar, kekeringan, dan kebodohan. Dalam klasifikasi skala internasional, rakyat miskin itu adalah orang-orang yang berpenghasilan 1 dollar perharinya atau kurang dari 1 dollar, jadi perbulannya sekitar 30 dollar (270.000 rupiah- kalau 1 dollar US= 9000 rupiah). Jumlah penduduk miskin dari data Bank Dunia menyatakan, prosentase orang miskin di Indonesia mencapai 53,4 persen (dengan kata lain ada 120.150.000 orang miskin di negara kita!). Sementara entah mengapa pemerintah memperkecil lagi kategori orang miskin, yaitu hanya dinilai dari angka yang sangat minim, 122.000 rupiah sebulannya ! lalu bagaimana dengan orang-orang yang berpendapatan antara 122.000 sampai 1.000.000 rupiah (13 -111 dollar US) perbulannya? Di porsentasi manakah orang-orang tersebut berada? di antara amat miskin dan menengah ke bawah mungkin ?
Kami tidak dapat mengerti ketika segala pameran bertaraf nasional dan internasional dengan gelaran kemewahan selalu menunjukkan transaksi yang memuaskan. Kita baru saja mendengar GAIKINDO EXPO berhasil melebihi target penjualan dan sesaat sebelumnya ada JAKARTA FAIR yang juga mengalami kemajuan berarti dalam transaksi dan tidak dapat kita lupakan adalah perusahaan pembiayaan yang terus meningkat omzetnya hingga Adira finance bisa menaikkan taraf kualitas Bank Danamon. Lalu pertanyaannya siapa pembelinya ? Apakah orang – orang expatriate ? Tetapi apakah jumlahnya sudah sangat banyak ? Lalu siapa ?
Kenyataan lain bahwasannya selama sebulan belakangan Indonesia mengalami ketidakpastian jumlah persedian BBM. Lalu apakah para penjual kendaraan bermotor, pemerintah sebagai pembentuk regulasi dan para pembeli tidak mengarahkan pandangannya pada apa yang sedang terjadi. Lalu bagaimana menyebutnya kalo itu bukan sebuah kebodohan.
Tren kemiskinan ini tampaknya di ikuti oleh berbagai kalangan yang mungkin mendalami UUD 1945 yaitu “ Senasib sepenanggungan” , komunitas itu menamakan dirinya atau dinamai “Gembel Elit” kehidupan kaum elite yang memiskinkan dirinya dengan gaya berpakaian compang – camping… tetapi tidak dengan gaya hidupnya, mereka tetap memakai mobil mewah tentunya dan berkumpul di salah satu mal yang berada dalam kawasan super elite “PIM” orang – orang biasa melafaskannya.
Disebuah negeri yang kaya raya, rakyat Indonesia tidak pernah bahagia. Adalah sebuah kenyataan pahit dalam setiap lembar kehidupan yang telah kami lewati dan seperti memutar balikan logika. Lihat saja Kalimantan , pulau dengan beribu hektar kebun kelapa sawit namun tidak juga makmur, Irian Jaya dengan pertambangannya juga tidak makmur, batam dengan kebebasan pajak dan akses perdagangan yang mudah juga masih menyimpan kemiskinan, serta NTB dengan eksotisme alamnya seakan mengaburkan kenyataan bahwa manusianya membawa “karung kosong”. Jakarta Ibukota negara Indonesia, menjadi kota impian warga seluruh Indonesia juga menyimpan sejarah busung lapar dan kemiskinan. Seakan pemda yang pemasukan pendapatan daerahnya begitu berlimpah tidak sedikit – pun memperhatikan kemiskinan rakyatnya, kita tengok kehidupan “taman safari” waria didaerah taman lawang, pelacuran terbuka di lapangan banteng, senen, jatinegara, mangga besar, dll. kaum “Rumah Gerobak” di bawah jembatan layang dan atau di persimpangan serta pojok – pojok gelap taman kota. Kemisikinan juga tampak pada nelayan – nelayan dengan rumah perahunya, kawasan bantaran sungai ciliwung, dan daerah pinggiran cakung hingga cilincing. Sementara kemewahan dimana – mana, Hypermarket yang diperkirakan dalam 5 tahun mendatang akan mencapai jumlah ± 200 buah diseluruh Indonesia adalah sebuah keyakinan tinggi pengusaha atau pemiskinan penduduk dengan pola konsumtif ? hanya kita yang dapat menjawabnya ! lebih dalam tentang kemiskinan ibukota adalah wajah dari sudut dibalik kemegahan Plasa Indonesia, sekitar kawasan elite Kelapa Gading sampai Cempaka Mas perbelanjaan terbesar Se – Asia tenggara, Sepanjang Kalideres yang notabene daerah industri, serta sudut – sudut kota dibalik pusat bisnis mangga dua. Belum lagi dipelosok – pelosok negeri, di atas gunung dan perbukitan berkumpul komunitas yang tak tersentuh peradaban semakin terpinggirkan oleh penebangan liar dan memiliki kemungkinan besar tidak pernah tersentuh dengan hebatnya Pancasila dan lambaian kegagahan Merah Putih, apalagi bantuan sebagai implikasi dari pengembangan UUD 1945 dan mereka- pun tidak pernah berteriak. Karena kemiskinan telah menjadi satu – satunya pilihan yang tidak dapat membuat mereka bermimpi tentang kenyamanan Jaguar, Kemegahan Grand Hyatt, kenikmatan berbagai makanan berkelas, serta kehangatan layanan SPA. Lalu belum lagi merasakan pahitnya dimanfaatkan sebagai kendaraan politik dan kekuasaan serta kepentingan individu sementara ancaman kecemasan dan ketakutan menghantui mereka karena dikejar aparat.
September 6th, 2005 at 5:16 am
hebat Di tulisan lo ini adalah cita-cita gue!!! sebenernya gue juga pengen banget buat nulis hal2 yang rada menyangkut politik dan pembangun jiwa bagi pembacanya… btw, gue baru tahu kalo lo buat blog juga, mampir-mampir donk ke http://www.sobat300.blogspot.com lo akan menemukan osi yang beda (???)