Archive for September, 2005

NEW liFE EVERYDAY

Sunday, September 11th, 2005

            

            Keseharian kita lewati dengan gagah berani.. penuh tantangan… dan tak khayal membawa kepada kepedihan… namun tidak ada satu hari pun tanpa kebahagian… hidup dalam putaran waktu.. hidup dalam kerasnya roda… hidup dalam ancaman pedang waktu… semua mata berlari untuk gapai masa depan .. nurani tersingkirkan oleh ego dalam raungan logika.. akankah semua berakhir… ya ketika tiba saatnya orang berbondong – bondong menggapai tirani dan hanya kita dalam kesendirian diruang gelap nan sempit yang dalam keseharian tak pernah kita harapkan berada didalamnya. Keluasan dan penerangan serta udara bebas jauh dari kepengapan… walaupun semuanya berawal dari lingkaran yang tidak lebih besar dari sebuah tabung gas rumahan. Ketika itu semua orang menaruh perhatian… menunggu kedatangan dan keberanian kita untuk keluar menghadapi silaunya cahaya, dinginnya hawa, dan lepasnya masa – masa dimana ketergantungan dalam pasokan yang tak tergantikan.

            Setiap harinya kita rasakan kegelapan yang terkadang kita takuti, setiap hari kita dihadapkan pada kenyataan untuk berhadapan dengan cahaya mentari yang terkadang menyilaukan. Setiap hari kita dikondisikan dalam ketidakberdayaan, namun siap menerkam siapa saja ketika terjaga… tetap kita tidak dapat menghindari kegelapan yang datang setiap harinya. Semuanya berulang begitu saja, tanpa kita dapat melawan dan menghindar… bahkan bagaimana para pahlawan pembela kebenaran digambarkan tetap melewati fase ini. Mati – hidup dan  hidup – mati… dst. Hanya saja tergantikan dengan Tidur – bangun dan bangun – tidur supaya tidak sedikitpun kita merasa begitu menakutkan …

            Ini adalah sebuah kenyataan, hidup ini tidak dapat kita putar kembali… dan waktu kita hanya sedikit… setelah itu adalah berbagai tindak tanduk dan buah pikir kita yang mungkin tidak dapat usang dimakan waktu… lalu apa yang membuatnya bertahan … hanya ketika “itu” disadari,dimengerti, dipahami, dan dilakukan oleh individu, kelompok, komunitas, masyarakat , dan berbagai bangsa diseluruh dunia bahwa kita telah terus memulai hidup baru dengan penuh harApan dan kebermanfaatan untuk orang lain.

        Individuality IS OLD FASHION… And the most stupid way of life is Being “SEKULER”

bicara kejujuran

Sunday, September 11th, 2005

          

            Sebenarnya apa arti kejujuran ? … setiap tulisan selalu ku mulai dengan satu buah pertanyaan… orang bilang jujur itu adalah sebuah hal yang patut dilakukan dengan kesiapan mental yang tinggi untuk menerima dengan lapang dada dan sepenuh hati bahwa kita adalah apa yang kita katakan dan benar – benar terjadi dengan kita dalam bahasa kita tanpa dipengaruhi perasaan takut atas penilaian orang lain …

setuju tidak ? jangan cepat setuju, itu kan hanya bahasa saya, sejujurnya saya sendiri hanya menulis definisi itu dari persepsi saya tentang jujur… lalu bagaimana dengan kebohongan putih atau “white lie” ? yang disebut – sebut sebagai bagian dari kejujuran juga katanya.

Ingat tidak iklan sebuah deterjen yang selalu membandingkan warna putih dari hasil pencucian… walau banyak persepsi tentang putih namun semua orang pasti tau yang mana putih bersih cemerlang karena dibandingkan satu dengan yang lainnya, nah kembali pada topic kejujuran… ketika seseorang melakukan kebohongan putih , lalu bagaimana dia mendefinisikan putih ya…  atau dia hanya meminta orang – orang disekelilingnya tuk bilang putih… dengan ancaman atau tanpa ancaman … atau mungkin yang diminta pura – pura buta warna dengan menganggap semuanya putih – putih saja….

Kejujuran… hal yang berat dilakukan ternyata… apa mau dikata, realitas selalu memaksakan kita untuk tidak jujur… mulai dari diri sendiri, dipaksa oleh pihak lain, atau karena desakan keadaan adalah kemungkinan dari sekian alasan kita untuk tidak jujur… Jujur saja saya juga sering eh terkadang… eh … eh gak deh .. karena saya selalu melakukan kebohongan putih jadi saya hanya berbohong untuk kepentingan orang banyak, agar semuanya aman terkendali gitu… 86 gitu ganti… jadi semua bisa bilang atau memaklumi kebohongan saya dan saya terbebas dari perasaan bersalah karena berbuat tidak jujur tadi…

Kebohongan putih adalah realitas, hari ini menjadi normal hanya karena semua melakukan hal itu atau bisa disebut lagi ngetren gitu loch… ketika kejujuran dikumandangkan , lihat reaksi orang untuk menggoyahkan si jujur tadi… udah lah jangan munafik… semua juga melakukannya kok.. udah deh jangan macem – macem … hari gini orang jujur = susah lagi (karena gak 86 tadi… ).

Jujur adalah prinsip dan menjadi jujur kemudian menjadi sebuah ketakutan karena tidak dapat diterima oleh realitas. Sehingga terasa asing dengan segala konsekuensinya… walau kejujuran pastinya membuat hati tenang tanpa rasa gundah gulana, namun sekali lagi desakan realitas membuat kita tak mampu untuk berpikir untuk jujur, berkata jujur dan bertindak jujur… seakan kehidupan tidak pernah memberi waktu kita untuk dapat jujur ? seperti saat ini, jujur saja gue lagi binun sama skripsi. kenapa ? karena hanya dipikirin aja … terlalu takut untuk memulai dengan segala konsekuensinya…  nah ketakutan itu sering banget hinggap di kehidupan kita karena memang kita hidup dalam realitas dan sekali lagi realitas yang membiasakan kita untuk tidak jujur… Lalu bagaimana kita bisa melakukannya… hanya ketika trilogy dari pikiran, hati, dan perbuatan menjadi sinergi dan bertahan dengan keteguhan prinsip… kita semua bisa mulai jujur pada diri kita sendiri dan meminta orang lain untuk jujur menilai kita… sekarang jujur deh… gimana cara penyampaian gue… kasih koment donk… jujur donk… jangan dibuat – buat… walau itu pahit ku terima dengan lapang dada dan sepenuh hati bahwa gue adalah apa yang gue katakan dan benar – benar terjadi dengan gue dalam bahasa anda tanpa dipengaruhi perasaan takut atas penilaian gue terhadap anda

real indonesia

Sunday, September 4th, 2005

Wajah Indonesiaku dengan Potret Kemiskinan

Di Tengah – tengah kemegahan dan Keindahan.

Entah harus mulai darimana, kesedihan melanda ketika mengingat berita dan derita busung lapar, kekeringan, dan kebodohan. Dalam klasifikasi skala internasional, rakyat miskin itu adalah orang-orang yang berpenghasilan 1 dollar perharinya atau kurang dari 1 dollar, jadi perbulannya sekitar 30 dollar (270.000 rupiah- kalau 1 dollar US= 9000 rupiah). Jumlah penduduk miskin dari data Bank Dunia menyatakan, prosentase orang miskin di Indonesia mencapai 53,4 persen (dengan kata lain ada 120.150.000 orang miskin di negara kita!). Sementara entah mengapa pemerintah memperkecil lagi kategori orang miskin, yaitu hanya dinilai dari angka yang sangat minim, 122.000 rupiah sebulannya ! lalu bagaimana dengan orang-orang yang berpendapatan antara 122.000 sampai 1.000.000 rupiah (13 -111 dollar US) perbulannya? Di porsentasi manakah orang-orang tersebut berada? di antara amat miskin dan menengah ke bawah mungkin ?

Kami tidak dapat mengerti ketika segala pameran bertaraf nasional dan internasional dengan gelaran kemewahan selalu menunjukkan transaksi yang memuaskan. Kita baru saja mendengar GAIKINDO EXPO berhasil melebihi target penjualan dan sesaat sebelumnya ada JAKARTA FAIR yang juga mengalami kemajuan berarti dalam transaksi dan tidak dapat kita lupakan adalah perusahaan pembiayaan yang terus meningkat omzetnya hingga Adira finance bisa menaikkan taraf kualitas Bank Danamon. Lalu pertanyaannya siapa pembelinya ? Apakah orang – orang expatriate ? Tetapi apakah jumlahnya sudah sangat banyak ? Lalu siapa ?

Kenyataan lain bahwasannya selama sebulan belakangan Indonesia mengalami ketidakpastian jumlah persedian BBM. Lalu apakah para penjual kendaraan bermotor, pemerintah sebagai pembentuk regulasi dan para pembeli tidak mengarahkan pandangannya pada apa yang sedang terjadi. Lalu bagaimana menyebutnya kalo itu bukan sebuah kebodohan.

Tren kemiskinan ini tampaknya di ikuti oleh berbagai kalangan yang mungkin mendalami UUD 1945 yaitu “ Senasib sepenanggungan” , komunitas itu menamakan dirinya atau dinamai  “Gembel Elit” kehidupan kaum elite yang memiskinkan dirinya dengan gaya berpakaian compang – camping… tetapi tidak dengan gaya hidupnya, mereka tetap memakai mobil mewah tentunya dan berkumpul di salah satu mal yang berada dalam kawasan super elite “PIM” orang – orang biasa melafaskannya.

Disebuah negeri yang kaya raya, rakyat Indonesia tidak pernah bahagia. Adalah sebuah kenyataan pahit dalam setiap lembar kehidupan yang telah kami lewati dan seperti memutar balikan logika. Lihat saja Kalimantan , pulau dengan beribu hektar kebun kelapa sawit namun tidak juga makmur, Irian Jaya dengan pertambangannya juga tidak makmur, batam dengan kebebasan pajak dan akses perdagangan yang mudah juga masih menyimpan kemiskinan, serta NTB dengan eksotisme alamnya seakan mengaburkan kenyataan bahwa manusianya membawa “karung kosong”.  Jakarta Ibukota negara Indonesia, menjadi kota impian warga seluruh Indonesia juga menyimpan sejarah busung lapar dan kemiskinan. Seakan pemda yang pemasukan pendapatan daerahnya begitu berlimpah tidak sedikit – pun memperhatikan kemiskinan rakyatnya, kita tengok kehidupan “taman safari” waria didaerah taman lawang, pelacuran terbuka di lapangan banteng, senen, jatinegara, mangga besar, dll. kaum “Rumah Gerobak” di bawah jembatan layang dan atau di persimpangan serta pojok – pojok gelap taman kota. Kemisikinan juga tampak pada nelayan – nelayan dengan rumah perahunya, kawasan bantaran sungai ciliwung, dan daerah pinggiran cakung hingga cilincing. Sementara kemewahan dimana – mana, Hypermarket yang diperkirakan dalam 5 tahun mendatang akan mencapai jumlah  ± 200 buah diseluruh Indonesia adalah sebuah keyakinan tinggi pengusaha atau pemiskinan penduduk dengan pola konsumtif ? hanya kita yang dapat menjawabnya ! lebih dalam tentang kemiskinan ibukota adalah wajah dari sudut dibalik kemegahan Plasa Indonesia, sekitar kawasan elite Kelapa Gading sampai Cempaka Mas perbelanjaan terbesar Se – Asia tenggara, Sepanjang Kalideres yang notabene daerah industri, serta sudut – sudut kota dibalik pusat bisnis mangga dua. Belum lagi dipelosok – pelosok negeri, di atas gunung dan perbukitan berkumpul komunitas yang tak tersentuh peradaban semakin terpinggirkan oleh penebangan liar dan memiliki kemungkinan besar tidak pernah tersentuh dengan hebatnya Pancasila dan lambaian kegagahan Merah Putih, apalagi bantuan sebagai implikasi dari pengembangan UUD 1945 dan mereka- pun tidak pernah berteriak. Karena kemiskinan telah menjadi satu – satunya pilihan yang tidak dapat membuat mereka bermimpi tentang kenyamanan Jaguar, Kemegahan Grand Hyatt, kenikmatan berbagai makanan berkelas, serta kehangatan layanan SPA. Lalu belum lagi merasakan pahitnya dimanfaatkan sebagai kendaraan politik dan kekuasaan serta kepentingan individu sementara ancaman kecemasan dan ketakutan menghantui mereka karena dikejar aparat. 

apa yah artinya bodoh

Sunday, September 4th, 2005

Apa yang salah dengan negeriku…. Begitu besar karunia - NYA terbentang dengan indah, lalu apa yang salah dengan negeriku… rakyatku…. Ada apa dengan semua kemiskinan ini… apa karena kebodohan… ya tapi kebodohan siapa ? apa teman – temanku yang memang terlahir miskin tanpa mampu melanjutkan pendidikannya … bisa dibilang bodoh… apa teman – teman ku yang memang tidak mendapat kesempatan untuk melihat nyata indahnya kehidupan… bisa dibilang bodoh… atau teman – temanku yang memang tidak tahu karena memang tidak pernah diberi kesempatan serta tidak diberi tahu bagaimana caranya mencari peluang dan harapan masa depan … memang bodoh…. Lalu siapa yang bodoh… sementara aku dan teman – teman yang lain, yang memang memiliki kesempatan untuk tahu, bagaimana , mengapa , kenapa, terus gimana, yang bodoh… atau mungkin teman – teman ku yang memiliki kekuatan dan pengetahuan untuk dapat membuat peraturan agar teman – teman ku yang katanya “bodoh” dapat menjadi tidak bodoh… yang bodoh. Lalu kenapa sebagian besar teman – temanku sering kali berada dalam ruangan sempit hanya untuk menjadi bodoh. Menghabiskan banyak biaya, bersusah payah bangun pagi dan pulang malam, lalu menjadi orang bodoh. Lalu sebenarnya apa definisi bodoh, siapa yang pertama kali seenaknya menyebut orang lain dengan kata – kata bodoh… dasar bodoh … begitu saja tidak tahu… sungguh bodoh … begitu saja tersinggung… bodoh sekali … mau saja dibodohi… Tidak ada yang enak didengar dengan kata bodoh… apapun kalimat penyambungnya “ bodoh” tetap tidak enak di dengar … SO segera mungkin kita jauhi kebodohan dan kurangi angka kebodohan dimuka bumi… ingat kebodohan tidak akan pernah enak didengar… selamat tinggal bodoh…